Sekarang aku cukup memahami, bahwa hidup adalah proses
pembelajaran. Kita gak akan pernah selesai untuk terus belajar. Bahkan jika
kita masih hidup hingga di umur tua sekalipun, pembelajaran harus terus
dilakukan.
Kebanyakan kita masih terpaku, kalau udah selesai sekolah,
ada perasaan bebas, “yesss, udah selesaiii!”
Seketika makna belajar menjadi sempit. Hanya terbatas pada
buku, tugas, nilai, ranking, punishment, reward; bukan pada ilmu. Karena jika
misi utama belajar adalah ilmu, maka seharusnya udah gak ada lagi yang
mengatakan “percuma belajar rumus-rumus matematika/fisika/mempelajari sejarah/mempelajari
geografi/dll kalau ujung-ujungnya gak dipakai”.
“ujung-ujungnya gak dipakai”, sedih melihatnya. Bahwa sebuah
ilmu dirumuskan menjadi mata pelajaran sekolah, adalah karena pasti bisa
diaplikasikan dalam kehidupan, dan pasti merupakan ilmu yang bermanfaat. Gak
ada sia-sia dalam belajar. Gak ada sia-sia dalam mempelajari sesuatu secara
sungguh-sungguh, meskipun belum terlihat titik terangnya apa dan bagaimana. Asal
niatnya adalah, menuntut ilmu, mempelajari ilmu, dan menjadikan ilmu tersebut
menjadi hal yang bermanfaat; minimal untuk diri sendiri. Karena belajar, tidak
hanya sekedar mempelajari isi yang dipelajari, tapi etika dalam belajar itu
sendiri. Sungguh-sungguh kah, teliti dalam mengumpulkan berbagai literatur kah,
disiplin kah, detail kah; yang dimana itu juga akan memengaruhi sikap dan
kebiasaan kita. Kalau kita sudah terbiasa untuk selalu teliti, disiplin, dan
selalu detail terhadap pelajaran, maka kita juga akan teliti, disiplin, dan
detail terhadap hal yang lainnya; seperti ketika terlibat di organisasi atau
sebuah pekerjaan. Makanya proses belajar, atau proses menuntut ilmu,
berusahalah untuk menjadikan proses dan apa yang kita pelajari itu menjadi hal
yang bermanfaat, minimal untuk diri sendiri.
Nah, tapi, sebenarnya section
kali ini bukanlah berfokus pada masalah pendidikan Indonesia. Melainkan pendidikan
dalam menjalani kehidupan. Proses pembelajaran. Belajar tanpa henti. Kembali ke
paragraf awal, bahwa banyak yang menganggap, setelah lulus, gak perlu lagi
belajar. Gak perlu lagi memahami ilmu yang sudah menghantarkan seseorang pada
titel, dan merasa “lulus” adalah akhir dari perjuangan belajar selama ini. Lulus
itu harus, tapi sekali lagi, esensi ilmu. Banyak yang sudah lulus, tapi masih
bingung akan kehidupan, bingung apa yang akan dilakukan. Berlimpah mata
pelajaran dan mata kuliah yang dipelajari, tapi tak satupun membekas. Bagaimana
nanti melakukan proses pembelajaran dalam kehidupan, yang kadan pelajarannya
itu lebih mahal bahkan lebih menguras emosi dan tenaga?
Tapi, dibalik itu semua, dibalik perasaan lelah dan beban
dalam menuntut ilmu, niat yang salah dalam menjalani proses pendidikan, dan
bahkan niat yang salah dalam menjalani proses kehidupan, karena kita semua
telah kehilangan cahaya yang berharga; iman, dan islam.
Islam Melesatkanmu, berapapun usiamu, dimanapun kamu, bagaimanapun kamu. – Edgar Hamas
Pencarianku, atas kemunduranku beberapa langkah, melalui proses
pembelajaran yang panjang, untuk merencanakan dan menjalankan proyek jangka
panjang. Proyek dunia akhirat. Apa kaitan dua penjelasan yang terlihat berbeda
hal ini?
--to be continued--
