Tuesday, October 30, 2018

Person of The Day: Semua Orang Berhak untuk Hijrah


Kemarin malam, aku menghadiri salah satu kajian pranikah yang diadakan oleh salah satu komunitas muslim Pontianak, di sebuah café. Tempatnya menarik, aku baru pertama kali ke café tersebut. Konsep café nya outdoor, dan di desain ala-ala kekinian. Lalu oleh tim komunitas muslim tersebut, tetap dibuat tempat duduk yang terpisah antara laki-laki dan perempuan.

Ini pertama kalinya aku datang ke kajian pranikah. Sebelumnya aku sempat datang ke salah satu seminar besar tentang pranikah juga, tapi itu semata-mata cuma karena ingin menonton sebuah film yang di-launching di acara tersebut. Kenapa aku ingin banget menonton filmnya, sampai-sampai aku bela-belain datang ke seminar yang sebenarnya aku gak tertarik untuk datang itu? Karena salah satu sahabatku menjadi pemain utama di film tersebut. Film tersebut adalah debut pertamanya dia. Karena film tersebut tidak akan di upload di youtube dan hanya diputar di seminarnya saja, jadi mau gak mau aku harus datang ke seminar tersebut.

Lalu apakah seminar pranikah tersebut bermanfaat? Sebenarnya bermanfaat sih, Cuma memang aku nya sendiri yang kurang cocok dengan style acaranya. Gak ada yang salah dari seminar tersebut kok. Hanya masalah selera aja. Sama seperti kita belajar salah satu mata kuliah yang disampaikan oleh seorang dosen yang kita merasa kurang cocok. Dosen tersebut tidak menyampaikan materi yang salah, tapi terkadang kita merasa gak cocok aja dengan cara beliau menyampaikan materi, mungkin karena terlalu terburu-buru, atau tidak memberikan waktu bagi mahasiswanya untuk bertanya, atau terlalu textbook, dan lain-lain.

Nah, sama, aku juga kurang cocok dengan cara penyampaian materi dan penyuguhan seminarnya saja, tapi aku dapat sih beberapa ilmunya.
Balik lagi ke kajian pranikah yang aku sudah sebut di awal. Nah jadi boleh lah ya aku klaim, ini kajian pranikah pertama yang aku datangi, meskipun aku sempat datang ke seminar pranikah tersebut. Atau gak boleh? Baiklah, mungkin hanya menyebut kajian pranikah saja, tanpa ada embel-embel “pertama”.

Alasan kenapa akhirnya aku memutuskan untuk datang adalah, aku merasa sepertinya aku sudah boleh membekali diriku dengan ilmu tentang pernikahan. Mungkin jodohku saat ini belum jelas, siapa orangnya. Tapi setidaknya, sambil menunggu atau ketemu dengan orang yang tepat, tidak ada salahnya kan aku juga perlu mempersiapkan ilmu agar nanti jika waktunya datang, aku tidak kelabakan karena tidak tahu ilmunya. Karena kesadaran itu, ketika melihat poster acara ini disebar di social media, akhirnya aku memantapkan diri untuk datang, meskipun sendirian.

Aku cukup kaget, ketika melihat yang menjadi MC di kajian tersebut. Ternyata, tanpa diduga, yang menjadi MC adalah teman sekolahku sendiri. Teman semasa SMA. Aku tidak terlalu kenal dia, tapi aku tahu siapa dia. Karena dulu kami dipisahkan oleh jurusan, aku jurusan IPA, dan dia jurusan IPS. Aku juga awalnya tahu dia karena aku kenal dengan mantan pacarnya. Mantan pacarnya itu dulu adalah anak sanggar yang  umurnya tidak jauh beda dengan kami—aku dan teman sekolahku itu—dan menjadi guru tari privat ketika aku mempersiapkan diri untuk tampil di acara pentas seni sekolah untuk ambil nilai.

Si temenku ini—sebut saja  namanya Fendi (bukan nama sebenarnya)—tidak juga menunjukkan keberpihakannya kepada agama Islam, atau kepada organisasi Islam yang ada di sekolah saat masih sekolah. Saat itu sepertinya fokus si Fendi adalah kegiatan-kegiatannya bersama anak-anak IPS lainnya. Dan aku juga gak pernah berpikir sama sekali bahwa Fendi akan memikirkan tentang Islam, toh dia juga pacaran saat itu.

Beberapa tahun berlalu. Aku gak pernah dengar kabar tentang si Fendi lagi. Aku juga sudah gak pernah bertemu lagi dengan anak sanggar yang menjadi guru tariku saat itu. Lalu aku datang ke acara kajian pranikah ini, dan… jeng-jeng, ternyata Fendi yang menjadi MC-nya. Membuka dengan kalimat salam, ucapan yang baik, acara menjadi hidup dengan dipandu dia, dan.. ini MC dari acara keislaman loh. Dia pun juga memperkenalkan diri sebagai bagian dari komunitas muslim tersebut. Dan komunitas muslim tersebut lagi naik daun dan menjadi bahan pembicaraan karena geraknya yang progresif dan strategis, menjadi salah satu komunitas yang banyak diminati oleh orang awam untuk lebih mengenal Islam.

Masya Allah, Masya Allah, lagi-lagi aku ditegur oleh Allah. Untuk jangan pernah men-judge siapapun, karena kita gak pernah tahu, di masa depan, bisa jadi orang yang kita judge, adalah orang yang lebih baik dari kita. Aku gak tahu pasti sejak kapan Fendi akhirnya terlibat di komunitas muslim tersebut. Yang jelas, aku gak akan lagi mau meremehkan siapapun. Sebenarnya, aku memang jarang ada urusan dengan dia sih, jadi aku jarang berprasangka ke dia. Tapi ketika aku belajar nari ke anak sanggar itu, image aku ke Fendi adalah; “oh, dia pacaran, lama pula pacarannya, berarti Fendi itu sama dengan anak-anak kebanyakan, yang gak akan pernah tertarik untuk belajar Islam”. Itu pandanganku dulu terhadap Fendi. Tapi sekarang, lihat, siapa yang berada di garda terdepan dalam sebuah komunitas untuk mengajak orang-orang kepada kebaikan?

Semua orang berhak hijrah. Semua orang berhak berubah lebih baik. Semua orang punya kesempatan untuk itu. Semoga kita tidak menyia-nyiakan sisa umur hidup kita untuk tidak berubah menjadi lebih baik. Harus berubah lebih baik. Di posisi apapun sekarang, sekali cahaya itu masuk ke dalam hatimu, jangan pernah “matikan” lagi cahaya tersebut.

Seperti halnya Fendi, aku yakin, Fendi pasti mengizinkan cahaya itu masuk, dan membiarkan cahaya itu semakin menerangi hatinya, sehingga dia akhirnya memulai langkahnya untuk memperbaiki diri; untuk hijrah. Semoga Allah mengistiqomahkan Fendi untuk terus berada di atas jalan-Nya, semoga Allah mengistiqomahkan aku juga, karena aku sudah pasti lebih buruk dari Fendi, dan aku yang lebih butuh bantuan Allah untuk istiqomah, dan semoga Allah mengistiqomahkan kita semua di jalan-Nya, dan selalu menjadikan langkah-langkah kita, adalah langkah-langkah menuju kebaikan. Aamiin.

Wednesday, October 24, 2018

Introduction: Step Back, and Long Term (Part 1)

Sebuah judul yang panjang, tapi, I can't think of any better title for this first post of my blog

And, hi! I'm Dina. Actually this is not my first blog. Since junior high school, I've tried to write many and super random thoughts in blog, but it was so terrible. Apalagi itu jaman-jaman alay, jadi akhirnya blog tersebut dihapus untuk meninggalkan jejak-jejak kealay-an yang sempat terekam di internet. 

I currently stay in Pontianak.

Sebenarnya tulisan-tulisanku yang cukup baik dan rapi itu juga sudah ku publish di tumblr. Dan sebenarnya tumblr udah menjadi tempat curhat paling setia since senior high school even until now -- hm, I mean, before tumblr is blocked by gov. 

Yes, jadi alasan hijrah lagi ke blogspot itu karena aku sudah gak bisa lagi menagakses tumblr-ku sehingga aku gak punya platform lagi untuk menulis. Sempat mencoba Medium. but I don't know, kayaknya tulisan-tulisan di Medium itu rata-rata berbobot dan penuh ilmu banget. Meanwhile, tulisan-tulisanku lebih ke curahan hati aja sih. 

Aku termasuk yang percaya bahwa "menulis is healing". Mungkin curhatan-curhatan atau inner random thoughts ku itu belum menjadi sesuatu yang sangat sangat impactful buat banyak orang. But at least, I do heal myself.  Lega rasanya. Karena apa yang menjadi beban pikiranmu, ketika kamu merasa gak ada yang bisa mendengarkan dan memahami dengan baik, kemudian kamu memutuskan untuk menuliskannya dalam satu tulisan utuh untuk mengeluarkan semua isi pikiranmu, rasanya lega dan senang, seperti ada yang mendengarkan. 

Nah makanya, I decided to make this page, at least for myself. But if you find it beneficial or entertain for you, alhamdulillah. 

Di introduction kali ini, aku ingin sekali sedikit membahas tentang "step back, and think about a long term". Tulisan dibawah ini, adalah tulisan yang sudah ku buat tapi belum di publish dimanapun. Jadi aku langsung saja copy ya. Selamat membaca!