Sebuah judul yang panjang, tapi, I can't think of any better title for this first post of my blog.
And, hi! I'm Dina. Actually this is not my first blog. Since junior high school, I've tried to write many and super random thoughts in blog, but it was so terrible. Apalagi itu jaman-jaman alay, jadi akhirnya blog tersebut dihapus untuk meninggalkan jejak-jejak kealay-an yang sempat terekam di internet.
I currently stay in Pontianak.
Sebenarnya tulisan-tulisanku yang cukup baik dan rapi itu juga sudah ku publish di tumblr. Dan sebenarnya tumblr udah menjadi tempat curhat paling setia since senior high school even until now -- hm, I mean, before tumblr is blocked by gov.
Yes, jadi alasan hijrah lagi ke blogspot itu karena aku sudah gak bisa lagi menagakses tumblr-ku sehingga aku gak punya platform lagi untuk menulis. Sempat mencoba Medium. but I don't know, kayaknya tulisan-tulisan di Medium itu rata-rata berbobot dan penuh ilmu banget. Meanwhile, tulisan-tulisanku lebih ke curahan hati aja sih.
Aku termasuk yang percaya bahwa "menulis is healing". Mungkin curhatan-curhatan atau inner random thoughts ku itu belum menjadi sesuatu yang sangat sangat impactful buat banyak orang. But at least, I do heal myself. Lega rasanya. Karena apa yang menjadi beban pikiranmu, ketika kamu merasa gak ada yang bisa mendengarkan dan memahami dengan baik, kemudian kamu memutuskan untuk menuliskannya dalam satu tulisan utuh untuk mengeluarkan semua isi pikiranmu, rasanya lega dan senang, seperti ada yang mendengarkan.
Nah makanya, I decided to make this page, at least for myself. But if you find it beneficial or entertain for you, alhamdulillah.
Di introduction kali ini, aku ingin sekali sedikit membahas tentang "step back, and think about a long term". Tulisan dibawah ini, adalah tulisan yang sudah ku buat tapi belum di publish dimanapun. Jadi aku langsung saja copy ya. Selamat membaca!
Memang tidak akan pernah ada manusia sempurna.
Sebuah penderitaan ketika semuanya harus didapatkan, secara sempurna.
Dan bodohnya, aku baru menyadarinya sekarang.
Aku pikir aku tidak akan pernah berada di
posisi yang bahasa kerennya itu “the lowest point of my life.” Aku pikir
semuanya akan berjalan dengan baik. Aku sudah menuliskan semua rencanaku.
Tinggal dijalani saja. Aku sudah menuliskan semua targetku. Tinggal aku
eksekusi saja. Dan aku akan menjadi sosok sempurna yang telah menjalani hidup
dengan baik dan benar, dan tidak kehilangan apapun.
Tapi ternyata aku salah. Dan satu tahun ini,
adalah masa dimana aku berada di titik terendah dalam hidup, yang tak pernah
kubayangkan sebelumnya. Ya, setahun. Waktu yang cukup lama bagiku. Hari-hari
penuh depresi dalam mencari jawaban atas segala pertanyaan hidup. Menunda
beberapa hal penting dalam hidup, agar tidak salah arah. Menghindar dari
hal-hal yang membuatku terbawa ke arah yang salah. Menyendiri. Merasa sesak di
tiap harinya.
Semua ini terjadi, karena aku mulai merasa
ketakutan yang luar biasa, untuk menjadi seseorang yang dewasa. Aku belum siap
untuk menjadi dewasa. Aku belum siap untuk menjadi seseorang yang tak bisa lagi
memikirkan kesenangan-kesenangan duniawi. Aku belum siap untuk menjadi
seseorang yang mencurahkan segala daya upaya dan energi, untuk hal yang lebih
besar.
Aku takut menjadi dewasa.
Ketakutan ini bukanlah tanpa alasan. Karena,
ketika aku menyadari bahwa aku akan beranjak dewasa dan menghadapi hidup yang
sebenarnya, aku memahami bahwa, jangan sampai aku berada di jalan yang salah.
Sudah cukup society membentuk who I was. Jika society tersebut memang absolut kebenarannya, maka tidak masalah.
Tapi bagaimana kalau society ternyata
salah? Kalau ternyata society dengan
segala patterns-nya adalah absolut,
yang dengan tercapainya society
expectation maka kebahagiaan akan didapat, adalah absolut, maka tak masalah
jika society shapes myself. But the fact is, no. There’s no absolutism in society we live in.
Lalu hidup seperti apa yang seharusnya aku jalani? Apakah semuanya bersifat non
absolut? Apa aku tinggal pilah pilih saja jalan yang aku mau, tanpa ada absolut truth yang membimbing hidup
manusia? Apa aku hanya cukup mejalani hidup untuk meraih kebahagiaan, yang
definisi kebahagiaan tiap individu adalah subjektif? Lalu, kalau ternyata aku
salah dalam menjalani hidup, bagaimana? Berarti aku akan menyesali semua
perjalanan hidup yang aku jalani? Betapa menyedihkan hidup yang seperti itu.
Karena itulah aku yakin, absolut truth must exist. Tapi pertanyaannya, apa itu
absolut truth dalam hidup, yang tiap definisi dan tiap penjelasannya, lalu kita
mengaplikasikannya dalam kehidupan, akan membawa value yang tinggi dan tidak akan pernah salah?
--to be continued--

0 comments:
Post a Comment