Kemarin malam, aku menghadiri salah satu kajian pranikah
yang diadakan oleh salah satu komunitas muslim Pontianak, di sebuah café. Tempatnya
menarik, aku baru pertama kali ke café tersebut. Konsep café nya outdoor, dan
di desain ala-ala kekinian. Lalu oleh tim komunitas muslim tersebut, tetap
dibuat tempat duduk yang terpisah antara laki-laki dan perempuan.
Ini pertama kalinya aku datang ke kajian pranikah. Sebelumnya
aku sempat datang ke salah satu seminar besar tentang pranikah juga, tapi itu
semata-mata cuma karena ingin menonton sebuah film yang di-launching di acara
tersebut. Kenapa aku ingin banget menonton filmnya, sampai-sampai aku
bela-belain datang ke seminar yang sebenarnya aku gak tertarik untuk datang
itu? Karena salah satu sahabatku menjadi pemain utama di film tersebut. Film tersebut
adalah debut pertamanya dia. Karena film tersebut tidak akan di upload di
youtube dan hanya diputar di seminarnya saja, jadi mau gak mau aku harus datang
ke seminar tersebut.
Lalu apakah seminar pranikah tersebut bermanfaat? Sebenarnya
bermanfaat sih, Cuma memang aku nya sendiri yang kurang cocok dengan style
acaranya. Gak ada yang salah dari seminar tersebut kok. Hanya masalah selera
aja. Sama seperti kita belajar salah satu mata kuliah yang disampaikan oleh
seorang dosen yang kita merasa kurang cocok. Dosen tersebut tidak menyampaikan
materi yang salah, tapi terkadang kita merasa gak cocok aja dengan cara beliau
menyampaikan materi, mungkin karena terlalu terburu-buru, atau tidak memberikan
waktu bagi mahasiswanya untuk bertanya, atau terlalu textbook, dan lain-lain.
Nah, sama, aku juga kurang cocok dengan cara penyampaian
materi dan penyuguhan seminarnya saja, tapi aku dapat sih beberapa ilmunya.
Balik lagi ke kajian pranikah yang aku sudah sebut di awal. Nah
jadi boleh lah ya aku klaim, ini kajian pranikah pertama yang aku datangi,
meskipun aku sempat datang ke seminar pranikah tersebut. Atau gak boleh? Baiklah,
mungkin hanya menyebut kajian pranikah saja, tanpa ada embel-embel “pertama”.
Alasan kenapa akhirnya aku memutuskan untuk datang adalah,
aku merasa sepertinya aku sudah boleh membekali diriku dengan ilmu tentang
pernikahan. Mungkin jodohku saat ini belum jelas, siapa orangnya. Tapi setidaknya,
sambil menunggu atau ketemu dengan orang yang tepat, tidak ada salahnya kan aku
juga perlu mempersiapkan ilmu agar nanti jika waktunya datang, aku tidak
kelabakan karena tidak tahu ilmunya. Karena kesadaran itu, ketika melihat
poster acara ini disebar di social media, akhirnya aku memantapkan diri untuk
datang, meskipun sendirian.
Aku cukup kaget, ketika melihat yang menjadi MC di kajian
tersebut. Ternyata, tanpa diduga, yang menjadi MC adalah teman sekolahku
sendiri. Teman semasa SMA. Aku tidak terlalu kenal dia, tapi aku tahu siapa
dia. Karena dulu kami dipisahkan oleh jurusan, aku jurusan IPA, dan dia jurusan
IPS. Aku juga awalnya tahu dia karena aku kenal dengan mantan pacarnya. Mantan pacarnya
itu dulu adalah anak sanggar yang umurnya tidak jauh beda dengan kami—aku dan
teman sekolahku itu—dan menjadi guru tari privat ketika aku mempersiapkan diri
untuk tampil di acara pentas seni sekolah untuk ambil nilai.
Si temenku ini—sebut saja
namanya Fendi (bukan nama sebenarnya)—tidak juga menunjukkan keberpihakannya
kepada agama Islam, atau kepada organisasi Islam yang ada di sekolah saat masih
sekolah. Saat itu sepertinya fokus si Fendi adalah kegiatan-kegiatannya bersama
anak-anak IPS lainnya. Dan aku juga gak pernah berpikir sama sekali bahwa Fendi
akan memikirkan tentang Islam, toh dia juga pacaran saat itu.
Beberapa tahun berlalu. Aku gak pernah dengar kabar tentang
si Fendi lagi. Aku juga sudah gak pernah bertemu lagi dengan anak sanggar yang
menjadi guru tariku saat itu. Lalu aku datang ke acara kajian pranikah ini, dan…
jeng-jeng, ternyata Fendi yang menjadi MC-nya. Membuka dengan kalimat salam,
ucapan yang baik, acara menjadi hidup dengan dipandu dia, dan.. ini MC dari
acara keislaman loh. Dia pun juga memperkenalkan diri sebagai bagian dari
komunitas muslim tersebut. Dan komunitas muslim tersebut lagi naik daun dan
menjadi bahan pembicaraan karena geraknya yang progresif dan strategis, menjadi
salah satu komunitas yang banyak diminati oleh orang awam untuk lebih mengenal
Islam.
Masya Allah, Masya Allah, lagi-lagi aku ditegur oleh Allah. Untuk
jangan pernah men-judge siapapun, karena kita gak pernah tahu, di masa depan,
bisa jadi orang yang kita judge, adalah orang yang lebih baik dari kita. Aku gak
tahu pasti sejak kapan Fendi akhirnya terlibat di komunitas muslim tersebut. Yang
jelas, aku gak akan lagi mau meremehkan siapapun. Sebenarnya, aku memang jarang
ada urusan dengan dia sih, jadi aku jarang berprasangka ke dia. Tapi ketika
aku belajar nari ke anak sanggar itu, image aku ke Fendi adalah; “oh, dia
pacaran, lama pula pacarannya, berarti Fendi itu sama dengan anak-anak
kebanyakan, yang gak akan pernah tertarik untuk belajar Islam”. Itu pandanganku
dulu terhadap Fendi. Tapi sekarang, lihat, siapa yang berada di garda terdepan
dalam sebuah komunitas untuk mengajak orang-orang kepada kebaikan?
Semua orang berhak hijrah. Semua orang berhak berubah lebih
baik. Semua orang punya kesempatan untuk itu. Semoga kita tidak menyia-nyiakan
sisa umur hidup kita untuk tidak berubah menjadi lebih baik. Harus berubah lebih baik. Di posisi apapun
sekarang, sekali cahaya itu masuk ke dalam hatimu, jangan pernah “matikan” lagi
cahaya tersebut.
Seperti halnya Fendi, aku yakin, Fendi pasti mengizinkan
cahaya itu masuk, dan membiarkan cahaya itu semakin menerangi hatinya, sehingga
dia akhirnya memulai langkahnya untuk memperbaiki diri; untuk hijrah. Semoga Allah
mengistiqomahkan Fendi untuk terus berada di atas jalan-Nya, semoga Allah
mengistiqomahkan aku juga, karena aku sudah pasti lebih buruk dari Fendi, dan
aku yang lebih butuh bantuan Allah untuk istiqomah, dan semoga Allah
mengistiqomahkan kita semua di jalan-Nya, dan selalu menjadikan langkah-langkah
kita, adalah langkah-langkah menuju kebaikan. Aamiin.

0 comments:
Post a Comment