Friday, November 9, 2018

Step Back, and Long Term (Part 2)


Sekarang aku cukup memahami, bahwa hidup adalah proses pembelajaran. Kita gak akan pernah selesai untuk terus belajar. Bahkan jika kita masih hidup hingga di umur tua sekalipun, pembelajaran harus terus dilakukan.

Kebanyakan kita masih terpaku, kalau udah selesai sekolah, ada perasaan bebas, “yesss, udah selesaiii!”

Seketika makna belajar menjadi sempit. Hanya terbatas pada buku, tugas, nilai, ranking, punishment, reward; bukan pada ilmu. Karena jika misi utama belajar adalah ilmu, maka seharusnya udah gak ada lagi yang mengatakan “percuma belajar rumus-rumus matematika/fisika/mempelajari sejarah/mempelajari geografi/dll kalau ujung-ujungnya gak dipakai”.

“ujung-ujungnya gak dipakai”, sedih melihatnya. Bahwa sebuah ilmu dirumuskan menjadi mata pelajaran sekolah, adalah karena pasti bisa diaplikasikan dalam kehidupan, dan pasti merupakan ilmu yang bermanfaat. Gak ada sia-sia dalam belajar. Gak ada sia-sia dalam mempelajari sesuatu secara sungguh-sungguh, meskipun belum terlihat titik terangnya apa dan bagaimana. Asal niatnya adalah, menuntut ilmu, mempelajari ilmu, dan menjadikan ilmu tersebut menjadi hal yang bermanfaat; minimal untuk diri sendiri. Karena belajar, tidak hanya sekedar mempelajari isi yang dipelajari, tapi etika dalam belajar itu sendiri. Sungguh-sungguh kah, teliti dalam mengumpulkan berbagai literatur kah, disiplin kah, detail kah; yang dimana itu juga akan memengaruhi sikap dan kebiasaan kita. Kalau kita sudah terbiasa untuk selalu teliti, disiplin, dan selalu detail terhadap pelajaran, maka kita juga akan teliti, disiplin, dan detail terhadap hal yang lainnya; seperti ketika terlibat di organisasi atau sebuah pekerjaan. Makanya proses belajar, atau proses menuntut ilmu, berusahalah untuk menjadikan proses dan apa yang kita pelajari itu menjadi hal yang bermanfaat, minimal untuk diri sendiri.

Nah, tapi, sebenarnya section kali ini bukanlah berfokus pada masalah pendidikan Indonesia. Melainkan pendidikan dalam menjalani kehidupan. Proses pembelajaran. Belajar tanpa henti. Kembali ke paragraf awal, bahwa banyak yang menganggap, setelah lulus, gak perlu lagi belajar. Gak perlu lagi memahami ilmu yang sudah menghantarkan seseorang pada titel, dan merasa “lulus” adalah akhir dari perjuangan belajar selama ini. Lulus itu harus, tapi sekali lagi, esensi ilmu. Banyak yang sudah lulus, tapi masih bingung akan kehidupan, bingung apa yang akan dilakukan. Berlimpah mata pelajaran dan mata kuliah yang dipelajari, tapi tak satupun membekas. Bagaimana nanti melakukan proses pembelajaran dalam kehidupan, yang kadan pelajarannya itu lebih mahal bahkan lebih menguras emosi dan tenaga?

Tapi, dibalik itu semua, dibalik perasaan lelah dan beban dalam menuntut ilmu, niat yang salah dalam menjalani proses pendidikan, dan bahkan niat yang salah dalam menjalani proses kehidupan, karena kita semua telah kehilangan cahaya yang berharga; iman, dan islam.

Islam Melesatkanmu, berapapun usiamu, dimanapun kamu, bagaimanapun kamu.  – Edgar Hamas


Pencarianku, atas kemunduranku beberapa langkah, melalui proses pembelajaran yang panjang, untuk merencanakan dan menjalankan proyek jangka panjang. Proyek dunia akhirat. Apa kaitan dua penjelasan yang terlihat berbeda hal ini?

--to be continued--

0 comments:

Post a Comment